Featured

Tatapan Magis Bayi-Ku

Napasku terengah-engah di sepetak ruangan apartemenku. Keringat deras mengucur, padahal saat itu suhu udara sekitar lima derajat celsius. Penghangat udara yang terpusat di gedung ini selalu tak cukup menghangatkan. Tapi kali ini keadaannya berbeda, keringat ini lantas keluar saat aku berusaha menghejam dengan keras.

Photo by Pixabay from Pexels

Aku melahirkan. Sendirian.

Napasku masih terengah-engah. Setelah si jabang bayi keluar rasanya memang plong, tapi setelah menghejam keras, penglihatanku seperti rabun. Kepalaku pusing seperti habis ditekan keras. Pening ini rasanya bertambah karena jeritan tangisan si bayi yang memekakan telinga dan sangat mengganggu.

Aku harus segera membersihkan bayi itu dan semua darah-darah yang berserakan. Tidak hanya dari tubuh si bayi tapi semua yang ada di lantai. Aku benci bau amis. Persoalan selanjutnya yang perlu aku pikirkan adalah mau dikemanakan bayi ini?

Lanjutkan membaca “Tatapan Magis Bayi-Ku”
Featured

Merindukan Jatuh Cinta

Merindukan jatuh cinta dan menemukan adalah urusan yang bisa jadi bumerang. Mungkin kamu berambisi ingin menemukan cinta dengan cara tercepat. Sampai-sampai mengorbankan hal yang tidak perlu, hanya karena segera ingin menemukan. Tidak tahan dengan kesendirian ini. Tidak tahan menghadapi pertanyaan-pertanyaan basa-basi “penting” dari keluarga, tetangga, nenek, orang tua. Kalau tidak segera, makin payah juga kamu menghadapinya terus-menerus.

Photo by Serkan Göktay from Pexels

Tapi di satu sisi yang lain kamu memang merasa sudah waktunya. Kuliah wajib – alias S1 – sudah selesai. Pekerjaan sudah punya, setidaknya sudah jadi karyawan tetap dengan gaji yang sudah pasti terjamin. Selama musibah perusahaan bangkrut kemungkinanan terjadinyanya akan sangat kecil. Amit-amit.

Atau lebih jauh lagi, buat kamu yang mengerti, urusan ini soal kelengkapan ibadah. Urusannya bukan lagi hanya untuk memuaskan perasaan. Ada misi besar yang menyangkut umat, orang banyak.

Lanjutkan membaca “Merindukan Jatuh Cinta”
Featured

Euthanasia Untuk Mia

Photo by Pixabay from Pexels

Daru berlari keluar sambil membanting pintu ruang putih dan meninggalkan pria dengan jas putih khas itu yang masih menjelaskan. Tidak sopan memang.

Ayah menahan tubuh Mama yang mau beranjak berdiri. Biar aku saja yang menemui Daru. Mama memutuskan untuk mendengarkan lebih jelas soal pilihan keputusan terakhir dari pria jas putih khas itu.

Setiap akhir pekan, empat bulan lamanya, keluarga Daru rajin menemumi pria dengan kabel menggantung yang dia selalu letakkan ke dada. Dia seperti sedang mendengar sesuatu yang sangat penting.

Lanjutkan membaca “Euthanasia Untuk Mia”
Featured

Sayur Oyong Saat Hujan

Photo by Skitterphoto from Pexels

Sore ini lagi-lagi aku harus basah kuyup sampai di rumah setelah mengendarai motor. Niat hati cuman ke minimarket, tak perlu persiapan khusus, kan seharusnya. Tak pakai helm, bermodal sandal jepit dan celana pendek yang tak sampai lutut.

Belanjaanku hanya bumbu instan nasi goreng, camilan dari asin sampai manis, sekalian saja. Perut lapar jadi aku hadang hujan ini karena bumbu instan nasi goreng ini harus segera bergabung dengan nasinya.

“Sudah Ibu bilang, sekarang musim hujan, jas hujan harus selalu dibawa. Kenapa susah dibilangin, sih?”

Ibu selalu cerewet kalau tahu aku pulang basah kuyup. Omelan itu akan lebih panjang ketika tahu kalau jas hujan yang Ibu belikan tak pernah aku bawa.

Lanjutkan membaca “Sayur Oyong Saat Hujan”
Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai